Jauh di sudut pengap tersembunyi
Di dalam hati yang rindu pelukan sunyi
Juga ingin bercengkrama orgel bernyanyi
Namun tetap saja sunyi.
Aku melihat secepat komet mata itu
Menusuk tepat dan menohok hatiku
Binar matanya itu merogoh kembali hati yang sepi
Kilau lembutnya membias dan menyilaukan sepuh pipiku
Terangi cintaku.
Orgel terus menggema dan akhirnya menggema
Mata itu masih menelan konsentrasiku
Tak mengutik lengahku
Dan menggenggam hatiku
Cintaku juga kasihku
Denting terus mengalun
Aku menyelami kilau lentera dunia itu
Tulus..
Begitu tulus memandang rautku yang mengkerut
Tak tau apa yang dipandanginya
Aku beradu mata dengannya
Saling menyelami mungkin
Seakan Aku percaya diriku yang dipandang
Tapi kutau akhirnya
Mata itu kosong dan kosong tanpa cinta
Meski begitu indah dan menyilaukan
Tapi bohong
Dia hanya selami denting orgel yang merdu dan menenangkan
Bukan Aku…
DIarsipkan di bawah: Puisi